Pundi- Pundi Rupiah Bersama Ibu Rosmini Goloba
Bolmong–Sejak adanya Integrated Participatory Development and Management of Irrigation Program (IPDMIP) tahun 2021 di desanya yaitu Desa Cempaka Kecamatan Sang Tombolang Kabupaten Bolaang Mongondow, Ibu Rosmini Goloba dan yang biasa disapa lebih akrab mama Ida yang sekarang ini berumur 62 tahun, di usia yang tidak muda lagi tap masih bersemangat bersama suaminya dalam mengelola usaha padi sawah sebagai usaha utama dan komoditi lahan kering berupa jagug, kacang tanah dan cabe.
Mama Ida sendiri mempunyai 3 orang anak perempuan, anak pertama sudah diwisuda di STIE, kedua semester 5 dan yang terakhir semester I, keduanya sama sama kuliah di IAIN Manado.
Ibu dari 3 anak perempuan ini merasakan adaya perubahan positif dalam kehidupan dalam keluarganya. Perubahan lainnya yang dianggapnya paling penting adanya peningkatan pengetahuan dan ketrampilan dalam mengelola usaha tani padi sawah, peningkatan produksi dan pendapatan dan tidak kalah pentingnya bagaimana cara membuat analisa usaha tani dan perencanaan serta pengelolaan keuangan dalam rumah tangga.
Mama Ida sendiri diperkenalkan dengan program IPDMIP pada saat dihubungi oleh penyuluh pertanian sebagai salah satu penerima manfaat dalam kegiatan Sekolah Lapang perwakilan perempuan pada tahun 2021 tepanya pada musim tanam ke I (rendengan) di kelompok tani Karya Tani Desa Cempaka dan pada tahun yang sama pada MT ke II suaminya juga ikut Sekolah Lapang di lokasi yang berbeda. Saat ini masih sebagai ketua Kelompok Wanita Tani(KWT) bunga Intan I desa Cempaka dengan jumlah anggota 19 orang dengan fokus kegiatan pemanfaatan pekarangan juga membantu suami dalam usaha tani.
Selain sebagai peserta sekolah lapang pernah mengikuti pelatihan literasi dan edukasi keuangan tahun 2022 bersama suami, dan sebelum ada program IPDMIP pernah mengikuti pelatihan KEP di Bogor dan Tematik Jagung di BPP Lolak.
Menurut Mama ida, suaminya yang juga sebagai ketua kelompok tani Mappasitujue I dengan luas lahan garapan yang di olah saat ini seluas 2 ha. Lahan sawah yang di garap ini masuk dalam wilayah daerah irigasi Ayong yang merupakan kewenangan propinsi, dengan sistem pengairan yang cukup baik karena adanya kepedulian dari petani untuk merawat jaringan irigasi, selain perawatan dari pemerintah.
Selain usaha tani padi, untuk menambah pendapatan keluarga juga bertanam jagung, kacang tanah dan cabe di lahan kering di desa Bumbung seluas 2 ha.
Menurut Mama Ida, sejak adanya IPDMIP tahun 2021 di desanya bersama petani lainnya merasakankan adanya perubahan dalam peningkatan pengetahuan dan ketrampilan dengan materi yang diberikan dalam Sekolah Lapang.
Adapun materi di bahas pada saat sekolah antara lain penggunaan PUTS, penggunaan benih berlabel, persemaian, penanaman jajar legowo, pemupukan berimbang, tata guna air, pengendalian OPT dan Gulma, Panen pasca panen, analisa usaha tani, serta materi lain yaitu dinamika kelompok tani dan perencanan keuangan keluarga.
Dengan sekolah lapang banyak manfaat yang sangat di rasakan langsung oleh peserta karena dalam prosesnya kegiatan ini dilakukan dengan memadukan antara teknologi dan praktek melalui pengalaman petani dalam usaha tani dengan materi sesuai dengan kondisi umur tanaman padi yang di fasilitasi oleh penyuluh pertanian. Karena sekolah lapang dilaksanakan untuk petani, dari petani oleh oleh petani dengan belajar sambil berbuat serta belajar dari pengalaman.
Setelah mengikuti sekolah lapang mendapatkan motivasi, pengetahuan, ketrampilan, dan hasil nyata dari lahan percontohan sebagai media praktek yang pada saat itu hasil ubinan yang di peroleh 6,5 ton GKP / ha dengan tanam sistem jajar legowo 2 : 1 varistas situbagendit, sehingga bersama suami tertarik untuk menerapkan teknologi yang dilihat dah didapat ke lahan milik milik sendiri.
Dengan menerapkan teknologi pengolahan lahan yang sempurna menggunakan Hand traktor milik sendiri, pengunaan varitas unggul ciherang dan mekongga, penanaman sistem jarwo 4:1 dengan cara Tabela, pemupukan yang tepat, pengendalian OPT dan gulma serta panen dengan menggunakan combine havester.
Dengan sistem pengairan yang cukup tersedia menerapkan tata guna air untuk optimalisasi penggunaan air, meskipun demikaian dalam satu tahum menerapakan 2 kali musim tanam, ujar mamak Ida.
Mama Ida menambahkan, Adanya perubahan nyata setelah mengikuti sekolah Lapang, yang sebelumnya hasilnya 85 koli atau 3,8 ton per ha dan setelah mengikuti sekolah lapang menjadi 115 koli atau 5,2 ton. Dia menyadari hasil ini belum sesuai dengan harapan yang inginkan bila dibandingkan milik petani lain, dan selalu akan berupaya untuk meningkatkan produksinya di musim tanam berikutnya dengan belajar penerapan teknologi yang lakukan saat ini. Meskipun demikian merasakan adalah penambahan pendapatan hasil panen dalam setiap kali musim tanam.
Hasil panen berupa gabah kering panen kemudian dibawa ke gilingan dan dijual dalam bentuk beras ke tengkulak atau gilingan dan disisakan secukupnya konsumsi rumah tangga.
Peningkatan pendapatan yang peroleh cukup tinggi dimana pendapatan awal sebelum mengikuti sekolah lapang sebesar Rp 18 juta per hektar menjadi Rp 23 juta per hektar dengan biaya produksi yang dikeluarkan antara 7 sampai 8 juta per ha untuk pengolahan lahan, pembelian saprodi, biaya tenaga kerja serta panen dan pasca panen. Dengan asumsi harga beras ditahun 2022 dan 2023 ini sebesar Rp. 9000/kg rata-rata peningkatan pendapatan yaitu sebesar rata rata 5 juta per hektar merupakan salah satu bukti nyata program ini sangat bermanfaat.
Selain lahan sawah, mamak Ida juga mengusahakan tanaman jagung di lahan kering seluas 2 ha dengan produksi 8 ton pipilan kering dengan harga jagung Rp. 4000 sehinggga ada pendapatan tambahan lain 32 juta per musim tanam. Di lahan kering tersebut juga di tanami cabe sebanyak 300 pohon dengan perkiraan 1 pohon 0,5 kg dengan harga Rp. 40.000 maka ada tambahan pendapatan Rp. 6.000.000,- permusim tanam.
Dilahan tersebut juga di tanami kacang tanah, serta memelihara sapi sebanyak 2 ekor untuk sebagai tabungan apabila ada keperluan yang sangat mendadak. Dan yang lebih menariknya lagi dari hasil produksi kacang tanah diolah menjadi produk olahan kacang telur. Produk kacang telur ini dibuat berdasarkan pesanan terutama pada saat hari Idul Fitri maupun Natal, dengan produk kacang telur ini diperoleh pendapatan bersih sekitar Rp. 2.800.000 dalam setahun.
Dari hasil tersebut diatas uang di tabung di rumah denga pertimbangan jauh dari bank, uang yang disimpan digunakan membiayai anak kuliah, kebutuhan sehari hari, modal usaha tani berikutnya serta kendaraan bermotor sebagai alat tranpostasi.
Selain itu ada ikut arisan panen setiap 6 bulan sejumlah 1 juta sebanyak 15 orang, arisan keluarga setiap bulan 200 ribu, dan tahun 2022 membeli lahan kering untuk tananam jagung seharga 20 juta. Pada saat pertemuan arisan atau di sawah, mamak Ida berbagi pengalaman, memberikan motivasi serta mengajak petani lainnya untuk melakukan perencanaan dan pengelolaan keuangan dalam keluarga, meskipun melalui proses yang cukup lama ada beberapa petani yang mengikuti apa yang dilakukan saat ini, ujar mama Ida.
Mama Ida menuturkan merasa beryukur dari hasil usaha taninyanya membawa berkah karena sebagian uang sudah disetor untuk menunaikan ibadah haji di Mekah bagi suaminya.
Harapan kedepan karena program ini sangat dirasakan langsung oleh petani khususnya ibu ibu sehingga tahu dalam mengelola keuangan rumah tangga, adanya peningkatan pengetahuan dan ketrampilan serta pendapatan petani sehingga layak untuk di lanjutkan.
Kini mama Ida sudah bisa menyekolahkan anak-anaknya dan berharap akan dapat terus bersekolah sampai lulus kuliah. Khusus untuk anak perempuannya ia mempunyai harapan tersendiri. “Harapan saya adalah perempuan di desa ini semakin lama semakin maju supaya anak perempuan saya punya lebih banyak kesempatan daripada saya sendiri”.***
