Mei 2, 2026

Respon Petani Muda Terhadap Perkembangan Teknologi Pertanian

0
IMG-20230620-WA0048

Bolmong–Sosok petani muda yang bersahaja, yang mempunyai satu isteri dan dua orang anak, badan agak gembul, paras wajah yang membuat gadis terpikat, walaupun selalu bekerja di tengah sawah akan tetapi tetap membekas wajah mudanya, oleh keluarga dan teman teman sebaya lebih senang memanggilnya Iki akan tetapi nama sebenarnya adalah Riski Abarang, bagi anaknya di panggil papa,
Riski adalah petani muda yang berasal dari Desa Tanoyan Selatan Kecamatan Lolayan Kabupaten Bolaang Mongondow yang merupakan anggota kelompok tani Kinali Jaya yang memiliki 2 Hektar Tanah Garapan.

Riski pertama kali mengenal atau mengetahui program IPDMIP adalah pada Tahun 2019 dimana di wilayah dekat lahannya dilaksanakan sekolah Lapang, pada kegiatan sekolah lapang iki juga terlibat langsung dan dia sering diskusi dengan teman temannya yang ikut sekolah lapang. Selaian Kegiatan Sekolah Lapang, kegiatan IPDMIP yang di ikutinya adalah kegiatan kunjungan antar desa dan sharing petani, tahun 2020, riski mengikuti kegiatan IPDMIP kunjungan antar desa di Kabupaten Minahasa Selatan, tahun 2021 dan 2022 dia mengikuti kegiatan sharring Petani yang dilaksanakan di Kecamatan Lolayan, kecamatan Bolaang Timur dan kecamatan Dumoga Utara, serta dumoga timur demikian juga untuk kegiatan Demonstrasi alat pertanian Riski juga ikut serta, yang kebetulan tempat pelaksanaannya di kelompoknya sendiri yaitu kelompok Kinali Jaya.

Dari kegiatan sharring petani, Iki dapat bertukar pikiran dengan para petani yang hadir pada kegiatan tersebut, Dengan ilmu dan pengalamam yang di dapat dari sesama petani, dan juga dari penyuluh,Riski mulai menerapkannya pada sawah garapannya, Riski sudah tahu bagimana memilih dan pemberlakuan bibit unggul, bagaimana pemupukan, berimbang, bagimana pengaturan air, bagimana penanggulangan gulma, bagimana penggunaan alat alat pertanian, bagimana cara menanam secara jajar legowo, yang sebelumnya Iki masih memakai sistem pengolahan dan tanam dari orang tuanya yang belum mengenal perkembangan teknologi pertanian yaitu mulai dari pengolahan lahan yang sebelumnya menggunakan bajak tenaga sapi,, penggunaan bibit yang tidak berganti, sistem tanam pindah tapi bukan jajar legowo, pengaturan air yang belum sesuai dengan aturan kebutuhan tanaman, dan juga penanggulangan hama dan penyakit serta gulma. Sesudah mengikuti sekolah lapang Iki mulai mengerti bagimana penggunaan teknologi pertanian agar meningkat produksi dan pendapatan.Dalam melakukan pengolahan sawah, iki juga mencatat semua pengeluaran yang di pakai, tujuannya agar dapat di ketahui apakah untung atau rugi dalam pengelolaan sawah.

Selain juga ilmu yang di dapat dari penyuluh dan hasil diskusi dengan teman teman sesama petani, juga rajin mencari ilmu di You Tube tentang perkembangan Tehnologi pertanian, baik cara bercocok tanam padi sawah, bibit unggul (VUB) juga alat alat pertanian modern, dari hasil pencarianya ini, Oleh Riski di sampaikan kepada Bos Pemilik lahan, sehingga dalam pengolahannya pengolahan sawah riski sudah menggunakan Traktor roda dua ataupun roda empat, bibit yang ditanam bibit unggul yang berlabel, dan untuk menanam padi sudah menggunakan Trans Planter, yang di atur dengan sistem Jajar Legowo dan untuk panen menggunakan combine harfester, Sebelum mengikuti sekolah Lapang IPDMIP, hasil panen dalam satu hektar hanya mencapai 2 hingga 3 ton/ Ha, akan tetapi setelah adanya IPDMIP Produksinya meningkat menjadi 6 -7 ton/Ha, karena mengikuti perubahan perubahan di didapat dari sekolah lapang. Selain itu, Riski juga mempunyai kemampuan yang handal dibidang mesin mesin pertanian, baik pengoperasian, juga mmeperbaiki kerusakan pada alsintan, sehingga saran sarannya banyak di dengar oleh bosnya (pemilik Lahan dan alsintan) terutama tentang alat alat pertanian modern.

Hasil panen oleh riski dibawah kegilingan padi yang sudah memiliki pengering Vertical dan Flat, Hasil panen tersebut juga dibahagi dengan pemilik sawah. Dan untuk bagian Riski selain di jual langsung di gilingan juga ada sebagian yang dibawah kerumah untuk di konsumsi. Selain beras yang di jual kepada pemilik gilingan, juga Dedak di jual pada pemilik gilingan. Pendapatan yang di dapat dari hasil produksi selain di pakai untuk pengolahan sawah kembali, juga di tabung untuk persiapan sekolah anak anaknya. Selain pendapatan dari hasil panen padi, riski juga mendapat upah dari pengopersian alsintan apabila ada petani lain yang menyewa.

Sampai wawancara ini di lakukan, keadaan Riski tetap menerapkan ilmu yang di dapat dari kegiatan sekolah lapang, sharring petani sebanyak tiga kali pertemuan dan pendampingan penyuluh, Dan rencana berikutnya yang riski tetap menerapkan ilmunya yang di dapat di sekolah lapang dan mengajak teman teman yang sekelompok taninya untuk melakukan teknologi pertanian yang sudah di dapat dari sekolah lapang usulkan kepada pemilik sawah dan alat alat pertanian bahwa untuk penyemprotan alangkah bagusnya menggunakan Drount.***

Tinggalkan Balasan