Naluri Tingggi, Demi Bidik Aktivitas Perdagangan hingga Rp24 Triliun, CEP Dorong Bitung Jadi Hub Ekspor Indonesia Timur

SEPUTARSULUTNEWS.CO—Sulawesi Utara (Sulut) dinilai memiliki peluang besar untuk naik kelas dari sekadar daerah penghasil komoditas menjadi salah satu episentrum perdagangan internasional di kawasan Timur Indonesia.
Anggota Komisi VI DPR RI Dr (HC) Christiany Eugenia Paruntu (CEP) mendorong Sulut mengambil posisi strategis tersebut dengan mengoptimalkan Pelabuhan Bitung sebagai simpul utama arus ekspor dan perdagangan internasional.
Menurut CEP, momentum untuk mewujudkan ambisi itu semakin terbuka setelah Pelabuhan Bitung menyandang status International Hub Port (IHP) sekaligus mulai mengembangkan layanan direct call. Kehadiran layanan tersebut dinilai dapat memangkas rantai distribusi sekaligus meningkatkan efisiensi logistik dari dan menuju kawasan Timur Indonesia.
Jika sebelumnya pengiriman barang dapat memakan waktu sekitar 25–30 hari, efisiensi melalui layanan direct call berpotensi memangkas durasi menjadi hanya 7–10 hari. Tak hanya waktu tempuh yang lebih singkat, biaya logistik pun diproyeksikan dapat ditekan sekitar 20–30 persen.
“Sulut memiliki infrastruktur dan posisi geografis yang sangat strategis. Sekarang bagaimana kita mengoptimalkannya agar Bitung bukan hanya menjadi pelabuhan ekspor Sulut, tetapi menjadi hub perdagangan kawasan Timur Indonesia,” ujar CEP.
Ia melihat skala peluang yang tersedia jauh lebih besar dibandingkan sekadar mengandalkan arus ekspor Sulawesi Utara. Kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) memiliki potensi nilai ekspor yang diperkirakan dapat menembus US$25–30 miliar atau sekitar Rp400–480 triliun per tahun, dengan asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS.
Dari potensi sebesar itu, apabila Bitung mampu menarik dan melayani sedikitnya 5 persen arus perdagangan kawasan, maka terdapat sekitar Rp20–24 triliun aktivitas perdagangan yang berpeluang mengalir melalui Sulut.
CEP menegaskan, angka tersebut tidak serta-merta berarti seluruh nilai akan menjadi pendapatan daerah. Namun, besarnya arus perdagangan dapat menciptakan efek berganda bagi berbagai sektor ekonomi yang menopang aktivitas kepelabuhanan dan perdagangan.
“Rp20–24 triliun itu bukan berarti seluruhnya menjadi pendapatan Sulut. Tetapi itu adalah potensi aktivitas ekonomi yang dapat menggerakkan jasa pelabuhan, pergudangan, trucking, kontainer, industri pengolahan, perbankan, UMKM dan lapangan kerja,” jelasnya.
Sebagai gambaran, nilai ekspor Sulut sendiri pada 2025 telah mencapai sekitar US$1,24 miliar atau setara Rp19,8 triliun. Dengan capaian tersebut, CEP menilai Sulut memiliki pijakan kuat untuk memasang target yang jauh lebih tinggi.
“Target kita harus lebih besar. Sulut jangan hanya menjadi daerah penghasil komoditas. Bitung harus menjadi pintu ekspor Indonesia Timur menuju pasar Asia-Pasifik,” tegasnya.
Menurut CEP, semakin besar volume perdagangan yang berhasil ditarik dan dilayani melalui Bitung, semakin luas pula peluang bagi Sulut untuk menikmati nilai tambah ekonomi. Dampaknya bukan hanya pada peningkatan aktivitas pelabuhan, tetapi juga menjalar ke sektor industri, jasa, logistik, UMKM hingga penciptaan lapangan kerja.
“Semakin besar arus perdagangan yang dilayani, semakin besar pula peluang nilai tambah dan lapangan kerja yang tinggal di Sulut,” tandasnya. (*)
