Seputarsulutnews.co, Minsel– Sempat menunggu kepastian kepemimpinan, dua desa di Kecamatan Tenga akhirnya mendapat nahkoda baru Bupati Franky Wongkar langsung menitipkan satu pesan: jangan khianati kepercayaan rakyat.
Momentum penting terjadi di Kabupaten Minahasa Selatan. Dua desa yang sebelumnya mengalami kekosongan jabatan Hukum Tua kini resmi memiliki pemimpin baru setelah Bupati Franky Donny Wongkar, S.H., melantik Silvia Taogan, S.E., dan Sudirman Damopolii sebagai Hukum Tua Pengganti Antarwaktu (PAW).
Pelantikan yang berlangsung di GOR Desa Pakuweru Utara, Kecamatan Tenga, Selasa (4/8/2026), menjadi tanda dimulainya tugas besar bagi kedua pemimpin desa tersebut.
Bupati Franky Wongkar menegaskan, jabatan Hukum Tua bukan hanya simbol kekuasaan di tingkat desa, melainkan amanah yang harus diwujudkan melalui pelayanan, pembangunan, dan kepedulian terhadap masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan berharap kedua Hukum Tua mampu meninggalkan perbedaan yang muncul selama proses pemilihan dan kembali menyatukan seluruh elemen masyarakat demi kemajuan desa.
“Yang utama adalah membangun kebersamaan. Desa harus bergerak maju dengan semangat persaudaraan dan budaya mapalus,” menjadi pesan yang ditekankan pemerintah daerah.
Pelaksanaan Pilhut PAW sendiri memiliki mekanisme berbeda dibanding pemilihan reguler.
Proses ini dilakukan melalui Musyawarah Desa yang melibatkan unsur masyarakat sebagai perwakilan, sesuai aturan yang berlaku.
Kini, tantangan baru menanti Silvia Taogan dan Sudirman Damopolii. Keduanya dituntut menghadirkan inovasi, memperbaiki pelayanan publik, serta memperkuat kerja sama dengan BPD, perangkat desa, dan seluruh unsur masyarakat.
Tak hanya pembangunan desa, kedua pemerintahan desa juga diarahkan mendukung sejumlah program strategis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, hingga Gerakan ASRI untuk menciptakan lingkungan yang aman, sehat, resik, dan indah.
Pelantikan tersebut turut dihadiri unsur pimpinan daerah, jajaran Pemkab Minahasa Selatan, Forkopimcam Tenga, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga dari kedua desa yang kini memasuki era kepemimpinan baru.(***)

