Juni 29, 2026

Gubernur Yulius  Selvanus Beberkan Faktor di Balik Tingginya Angka Harapan Hidup Sulut

Seputarsulutnews.co, Jakarta– Provinsi Sulawesi Utara mencatatkan capaian positif di sektor kesehatan dengan angka harapan hidup mencapai 74,44 tahun. Prestasi tersebut menempatkan Sulut sebagai salah satu dari 10 provinsi dengan angka harapan hidup tertinggi di Indonesia sekaligus menjadi yang terbaik di wilayah Sulawesi. Capaian ini mencerminkan peningkatan kualitas layanan kesehatan dan pembangunan sumber daya manusia yang terus diperkuat oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.

Capaian tersebut dipaparkan Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus saat menjadi narasumber dalam talkshow di salah satu stasiun televisi nasional di Jakarta, yang disiarkan Jumat (26/6/2026) pagi.
Menurut Gubernur, keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, kementerian, instansi vertikal, hingga berbagai organisasi masyarakat.
“Indeks Pembangunan Manusia tidak hanya ditentukan oleh kesehatan, tetapi juga pendidikan dan ekonomi. Karena itu, semua pihak harus bekerja bersama agar kualitas hidup masyarakat terus meningkat,” ujar Yulius.
Ia menjelaskan, rata-rata lama sekolah di Sulawesi Utara telah mencapai 12,7 tahun, mendekati target nasional 13 tahun. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi daerah juga berada di atas rata-rata nasional sehingga turut berkontribusi terhadap peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.

Selain itu, Sulawesi Utara berhasil menurunkan angka stunting dan kemiskinan hingga memperoleh penghargaan dari pemerintah pusat.
Menurut Yulius, terdapat empat fokus utama yang menjadi perhatian pemerintah daerah, yakni perlindungan kesehatan, penguatan sosial ekonomi, peningkatan gizi masyarakat, serta kolaborasi lintas sektor.
Di bidang kesehatan, cakupan Universal Health Coverage (UHC) Sulawesi Utara telah mencapai 99,1 persen, melampaui standar nasional. Tingkat keaktifan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) juga mencapai 81,4 persen, lebih tinggi dari target nasional sebesar 80 persen.
“Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa akses masyarakat terhadap layanan kesehatan semakin terjamin,” katanya.
Selain memperluas akses layanan kesehatan, pemerintah juga terus menekan angka kemiskinan yang kini berada di kisaran 6,2 persen, sekaligus menurunkan prevalensi stunting melalui berbagai program intervensi.
Perhatian khusus juga diberikan kepada kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan lanjut usia melalui penguatan layanan posyandu, puskesmas, serta dukungan budaya gotong royong atau mapalus yang menjadi ciri khas masyarakat Sulawesi Utara.
Layanan Harus Dekat, Cepat, dan Bermutu
Yulius menegaskan pelayanan kesehatan di Sulawesi Utara harus memenuhi tiga prinsip utama, yakni dekat, cepat, dan bermutu.
Menurutnya, fasilitas kesehatan harus mudah dijangkau masyarakat, mulai dari posyandu, puskesmas pembantu, puskesmas hingga rumah sakit daerah.
“Pelayanan harus cepat merespons kebutuhan masyarakat dan didukung tenaga kesehatan, obat-obatan, serta peralatan medis yang memadai. Mutunya juga harus baik sehingga masyarakat tidak selalu bergantung pada rumah sakit rujukan,” ujarnya.
Namun demikian, kondisi geografis Sulawesi Utara yang memiliki 382 pulau, dengan sekitar 18 persen di antaranya berpenghuni, menjadi tantangan tersendiri dalam pemerataan layanan kesehatan.
Fokus pada Lansia dan Pencegahan Stunting
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara juga terus mengembangkan program bagi lanjut usia melalui konsep Tujuh Dimensi Lansia Tangguh, meliputi aspek spiritual, intelektual, fisik, emosional, sosial, vokasional, dan lingkungan.
Selain membangun taman lansia, pemerintah juga menyediakan pemeriksaan kesehatan, skrining penyakit, dukungan gizi, hingga mendorong aktivitas fisik agar lansia tetap sehat dan produktif.
Di sisi lain, upaya pencegahan stunting terus diperkuat sejak masa kehamilan. Gubernur mengimbau seluruh ibu hamil rutin menjalani pemeriksaan kehamilan sesuai standar, sekaligus memanfaatkan layanan kesehatan yang telah disediakan pemerintah secara gratis.
“Stunting berawal sejak masa kehamilan. Karena itu ibu hamil harus rutin memeriksakan kandungannya agar bayi lahir sehat dan tumbuh optimal,” tegasnya.
Perkuat SDM Kesehatan Lewat Fakultas Kedokteran
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Sulawesi Utara saat ini adalah keterbatasan tenaga dokter, terutama di wilayah kepulauan.
Yulius mengungkapkan, kebutuhan dokter umum di Sulut mencapai sekitar 3.300 orang, sementara yang tersedia baru sekitar 2.300 dokter. Kondisi serupa juga terjadi pada dokter gigi yang masih mengalami kekurangan sekitar 1.500 tenaga.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara mendorong pembukaan Fakultas Kedokteran di sejumlah perguruan tinggi.
Saat ini Universitas Negeri Manado (Unima) telah resmi membuka Fakultas Kedokteran dengan kuota awal 50 mahasiswa yang seluruhnya berasal dari Sulawesi Utara dan memperoleh beasiswa. Selain itu, pembukaan fakultas serupa di Universitas Klabat (Unklab) dan Universitas Katolik De La Salle Manado juga tengah berproses.
“Harapan kami, lulusan fakultas kedokteran ini nantinya dapat memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan, terutama di daerah kepulauan,” kata Yulius.
Ia menegaskan pemerintah akan terus memperkuat kolaborasi lintas sektor agar kualitas hidup masyarakat semakin meningkat.
“Kesehatan bukan hanya urusan rumah sakit. Ini adalah hasil kerja bersama seluruh sektor pembangunan untuk mewujudkan Sulawesi Utara yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Dalam kunjungan tersebut, Gubernur Yulius Selvanus dampingi sejumlah pejabat Pemprov Sulut,  diantaranya Kadis Kominfo Zainudin Hilimi, Kadis Kesehatan dr Rima Lolong, ⁠Komisioner KPID Sulut Reidi Sumual, Dirut RSUD Pemprov Sulut dr David Kolibu, ⁠Kepala Badan Penghubung Daerah Pemprov Sulut di Jakarta Reynaldo Walujan, dan beberapa anggota ⁠Tim Khusus Gubernur Sulut.(*)

Exit mobile version