Bahas Pemasalahan Stunting,Pemdes Wioi Gelar Rembug Desa
dalam sambutannya, Hukum Tua desa Wioi Esly Untu mengatakan bahwa kegiatan Rembug Desa membahas tentang Sunting merupakan suatu kewajiban karena kegiatan ini merupakan agenda Nasional yang harus di lakukan di masing masing desa.
Lanjut Untu, Stunting merupakan gejala yang timbul sejak balita dimana pertumbuhan anak berupa tinggi badan tidak sesuai umur serta sejak lahir tidak ada perkembangan tinggi badan. untuk itu kami melakukan rembug Desa untuk membahas bagaiman kita menjaga agar pertumbuhan anak akan terus terjaga.
“Untuk itu, saat ini kita berembug, bermusyawarah menyangkut kegiatan apa yang kita laksanakan dan berikan agar Desa kita terbebas dari Stunting tahun 2025 mendatang,” ujar Untu.
sementara itu dari pihak Puskesmas mengatakan bahwa dalam kegiatan Rembug Desa Kovergensi penurunan Stunting, kita perlu pemahaman apa itu Stunting. Makanya KPM, kader kesehatan yang ada di desa harus berperan aktif dalam penanganan percepatan penurunan stunting di desa.
KPM Desa Wioi Utina Sumangando dalam laporannya mengatakan bahwa desa Wioi sampai saat ini sudah tidak ada Stunting, tetapi masih ada anak yang kurang gisi. untuk itu perlu ada ide atau gagasan kedepan agar anak anak ini akan terhindardari Stunting.
sementara itu pendamping desa Aneke Pananginan yang menjadi moterator dalam kegiatan rembug Desa mengatakan bahwa kegiatan ini adalah membahas tentang bagaiman percepatan penurunan Stunting daDesa Wioi sekaligus bagaiman pendanaan dalam Dana desa tahun 2025 mendatang.
Dalam Rembug Desa telah diusulkan beberapa usulan untuk masuk dalam RKPdesa tahun 2025 mendatang. diantaranya pemberian makanan tambahan baik ibu hamil, balita, remaja putri. pembutana WC bagi keluarga yang belum memiliki WC lebih khusus yang terdapat anak Stunting yang kurang mampu.
turut hadir dalam kegiatan tersebut, Perangkat Desa dan BPD, para kader, serta undangan lainnya. (Fredy)
