Ritual Adat Manduru’u Tonna Terpelihara Baik Setiap Tahun Di Kabupaten Talaud

SEPUTARSULUTNEWS, TALAUD – Tanah Porodisa atau Kabupaten Kepulauan Talaud yang sangat kaya dengan adat istiadat peningalan Nenek Moyang yang memelihara daerah ini tetap dalam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kamis (03/02/2022).
Nilai adat di Kabupaten Talaud juga terus terpelihara secara baik hingga saat ini. Salah satu di antaranya adalah ritual adat Manduru’u Tonna yang rutin dilaksanakan setiap awal Tahun.
Setiap Tahunya tahapan ritual adat, yang merupakan permohonan doa syukur atas pemeliharaan Tuhan selama Tahun yang telah dijalani dan permohonan akan pemeliharaan Tuhan sepanjang Tahun yang berjalan lancar serta masyarakat Talaud diberkati.
Sedikitnya ada 20 ritual yang dilakukan dalam kegiatan adat Mandulu’gu Tonna ini. Seperti Manal,oho Mal,ambe Ratu’n Taroda Porodisa naranta su wanala (menyambut raja Talaud yang tiba di tempat upacara), Manal’oho Mal’ambe suwuntal, annu wanala ahuguana (menyambut raja di halaman acara), Maparangan’na Mal’ambe Ratu Taroda Su-Wanala (menaikan raja dari tangga gedung tempat upacara), Manengkella nanaungan’na (tingicu tatengkel’la) (membunyikan gong sebagai tanda upacara dimulai), Mapaiannu Mal’ambe Mararatu sembuntuan, Mawawoi santara (raja dan undangan dipersilahkan duduk), Maparanganmu Baa’a awurru mandumatingngu puang manggorrongann (menghadirkan simbol adat Talaud, yaitu ketupat raksasa dan kepala babi sebagai simbol persatuan, kedamaian dan kesejahteraan), Manarimmattu puang mangorronganna Manengkamma Baa’a Ringannu Mapaianna (menerima simbol dan persilahkan hadirin duduk).
Tingicu Sasambiolo (kata-kata jemputan adat kepada hadirin), Ul’ittu Tuda-Tal’aan Pinitan’na (pemaparan maksud dan tujuan). Sarindul’ange (doa pembuka), Mandapapaca (Doa Dasar, Yaitu doa untuk mendasari maksud dan tujuan upacara, Juga mengingatkan kebaikan nenek moyang dan meminta berkat bagi keturunannya).
Mamansunge (Doa Safaat. Untuk meminta ketenteraman, kedamaian dan kemakmuran). Manggesa Baa’a, Manduru Puang Manggoronganna wurru matahia sumanga asisi bae lati’o pinintu Tinonda sara Napombal’u (Memotong ketupat dan mengiris daging babi serta membagikan kepada anak negeri), hingga akhirnya ditutup dengan Sal’aingngu Ampania (Sajian Tarian) yang dipentaskan oleh masyarakat Talaud.
Adat di Talaud menjadikan Tanah Porodisa ini Menjadi Surga di perbatasan Utara Indonesia, yang masih menjalani norma-norma adat yang terjaga hingga saat ini. (Oke)
