Kelapa Minut Dibidik Naik Kelas, Joune Ganda Diundang Kemendes Jajaki Peluang Kerja Sama dengan China
SEPUTARSULUTNEWS.CO—Potensi kelapa Minahasa Utara (Minut) berpeluang menembus pasar yang lebih luas melalui pengembangan industri pengolahan dan kerja sama internasional. Peluang ini menjadi salah satu agenda strategis yang dibawa Bupati Minahasa Utara, Dr. Joune J.E. Ganda, SE, MAP, MM, MSi dalam forum kolaborasi pembangunan desa bersama China Investment Association yang diinisiasi Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal RI.
Bagi Minahasa Utara, tantangan pengembangan komoditas kelapa bukan semata-mata meningkatkan produksi, melainkan bagaimana hasil perkebunan tersebut dapat menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar bagi petani dan masyarakat perdesaan.
Selama ini, kelapa menjadi salah satu identitas sekaligus potensi unggulan Minahasa Utara. Namun, peluang ekonomi dari komoditas ini dinilai masih dapat diperluas melalui pengembangan industri hilir, diversifikasi produk turunan, dan pembukaan akses pasar yang lebih kompetitif.
Di sinilah peluang kemitraan internasional menjadi penting. Kerja sama dengan pihak luar diharapkan dapat membuka ruang bagi pengembangan industri pengolahan, memperluas jaringan perdagangan, serta mendorong produk unggulan daerah memasuki rantai pasar yang lebih luas.
Bupati Joune Ganda menegaskan, hilirisasi menjadi langkah strategis untuk meningkatkan daya saing komoditas perkebunan daerah.
“Hilirisasi kelapa akan memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan nilai tambah, penciptaan lapangan kerja baru, peningkatan pendapatan petani, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Joune Ganda kepada sejumlah wartawan.
Menurutnya, pengembangan kelapa tidak seharusnya berhenti pada produksi dan penjualan bahan mentah. Pengolahan menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi perlu didorong agar manfaat komoditas tersebut dapat dirasakan lebih luas oleh petani, pelaku usaha, dan masyarakat.
Undangan Kemendes PDT kepada Joune Ganda tertuang dalam surat Direktorat Jenderal Pembangunan Desa dan Perdesaan Nomor 134/PDP.03.04/X/2026 tertanggal 16 Oktober 2026.
Forum yang dijadwalkan berlangsung pada 19 Oktober 2026 di Jakarta tersebut mempertemukan pemerintah daerah dengan pihak-pihak yang berpotensi menjadi mitra dalam kolaborasi pembangunan desa dan perdesaan.
Bagi Minahasa Utara, agenda ini relevan dengan upaya memperkuat ekonomi berbasis potensi lokal. Sebab, pengembangan industri pengolahan tidak hanya berbicara tentang peningkatan nilai jual komoditas, tetapi juga berpotensi menciptakan kebutuhan tenaga kerja, membuka peluang usaha baru, dan memperluas kegiatan ekonomi di wilayah perdesaan.
Jika didukung investasi, teknologi, kapasitas produksi, dan jaringan pemasaran yang memadai, kelapa dapat dikembangkan menjadi basis industri yang memberikan manfaat ekonomi melampaui aktivitas perkebunan semata.
“Dengan pengolahan yang semakin berkembang dan akses pasar yang lebih luas, potensi kelapa daerah diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi petani, pelaku usaha, serta masyarakat Minahasa Utara,” lanjut Joune.
Meski demikian, realisasi manfaat tersebut akan bergantung pada tindak lanjut konkret dari penjajakan kerja sama, termasuk peluang investasi, kepastian pasar, dan keterlibatan petani lokal dalam rantai pasok industri.
Selain kelapa, Minahasa Utara memiliki komoditas potensial lain, seperti pala dan jagung, yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari strategi diversifikasi ekonomi daerah.
Potensi tersebut ditopang oleh wilayah Minahasa Utara yang terdiri atas 10 kecamatan, 125 desa, dan enam kelurahan. Sektor pertanian dan perkebunan menjadi salah satu penopang perekonomian, berdampingan dengan industri pengolahan dan pariwisata.
Di sisi lain, kawasan Likupang yang berstatus Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) menjadi potensi pendukung bagi pengembangan ekonomi daerah. Keterhubungan antara sektor perkebunan, industri pengolahan, dan pariwisata membuka peluang bagi tumbuhnya usaha lokal serta perluasan pasar produk daerah.
Joune Ganda berharap, kolaborasi lintas sektor dapat mendorong pembangunan desa yang lebih produktif, dengan fokus tidak hanya pada infrastruktur, tetapi juga pada peningkatan kapasitas ekonomi masyarakat, kesejahteraan petani, dan penciptaan lapangan kerja.
Selain Bupati Minahasa Utara, undangan forum tersebut juga ditujukan kepada Gubernur Sulawesi Tengah serta bupati Nias Utara, Indragiri Hilir, Lombok Utara, dan Tulungagung.
Bagi Minahasa Utara, ukuran keberhasilan dari peluang kerja sama ini pada akhirnya bukan sekadar keikutsertaan dalam forum internasional. Yang lebih penting adalah sejauh mana peluang tersebut dapat ditindaklanjuti menjadi investasi, industri pengolahan, akses pasar, dan peningkatan pendapatan bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada komoditas unggulan daerah.
Dengan demikian, agenda hilirisasi kelapa menjadi ujian penting bagi upaya Minahasa Utara mengubah potensi perkebunan menjadi kekuatan ekonomi yang lebih bernilai dan berkelanjutan. (*)
