Pandemi di Bulan Ramadhan 1441H

TIDAK kata dan perasaan yang pantas kita lahirkan ketika menemui bulan suci Ramadhan kecuali dengan memuji Allah SWT atas kenikmatan besar ini, dan tentunya dengan rasa senang.

Perubahan Sikologi sebagai rasa rendah diri karena perbuatan maksiat yang melekat pada diri, adalah sifat hamba (ubudiyah). Dan perasaan Maha Mulia dan Maha Besar adalah sifat Tuhan (Rububiyah).

Berbagai ujian dan cobaan terus menerpa kehidupan manusia mulai dari bencana secara lahiria terjadi sampai bencana covid19 yang tak bisa dilihat secara lahiria tetapi semua itu bagian dari ujian untuk menjadikan manuasia lebih taat kepada sang pencipta langit dan Bumi, ukuran ketaatan seorang manusia ialah dia taat kepada ajaran agamaNya dan apa yang di ajarkan agamanya sendiri sebagaimana dalam islam di atur dalam Al-Quran : Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan kepada para pemimpin di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan RasulNya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa[4]: 59).

Adapun sifat seperti yang dimaksud adalah sikap yang harus dimiliki oleh hamba yang melekat pada dirinya dosa-dosa, hendaklah ia tidak merasa hina dan rendah diri. Ia harus berpengharapan penuh kepada Rahmat Allah. Orang seperti ini adalah orang yang lebih baik dari orang yang merasa telah banyak beribadah dan taat kepada-Nya, akan tetapi tumbuh rasa angkuh dan tinggi diri dengan amal ibadahnya itu.

Sesungguhnya mereka yang merendahkan diri adalah hamba yang terlibat dalam perbuatan ma’siat, lebih baik dari angkuhnya hamba yang berbuat taat. Seorang hamba yang taat beribadah, akan tetapi tumbuh rasa angkuh dan riya’ dalam hatinya, maka sikologinya meremehkan amal ibadahnya itu. Ada juga hamba Allah yang sering terlibat perbuatan dosa.

Kesombongan walaupun tidak dinyatakan dalam perkataan atau perbuatan akan tetapi dapat dirasakan dalam hati si hamba sendiri. Sebab, kesombongan yang tersimpan dalam hati, akan lebih membahayakan si hamba, karena akan menumbuhkan berbagai macam sifat yang bisa menggolongkan dirinya sebagai manusia syirik. Sebagaimana ramadhan 1441 H ditengah wabah covid19 begitu banyak person manusia tiba-tiba merasa lebih kuat TauhidNya tanpa iman dan ilmu yang dalam sekedar bicara tanpa mengenal jauh apa makna wabah covid19 dalam mengancam kehidupan kebersamaan.

Siapa yang tak mengenal nabi Muhammad SAW kelebihan dan kemulian yang Allah berikan berlimpah bahkan kita tidak sanggup mengukir semua kemuliam yang Allah titipkan buat Nabi Muhammad SAW. Tapi Nabi Muhammad pun berihktiar sebagaimana kisah di Gua Tsur suatu ketika orang-orang Quraisy itu naik ke Bukit Tsur dan mengamati gua itu, saat itu merupakan detik-detik yang menegangkan. Abu Bakar melihat kaki-kaki mereka, sehingga beliau berbisik kepada Nabi: “Wahai Nabi Muhammad Rasulullah, sekiranya mereka melihat ke bawah telapak kakinya, pasti akan melihat kita”. Nabi Muhammad Menjawab: “Wahai Abu Bakar apa yang kamu kira bahwa kita ini hanya berdua; ketahuilah, yang ketiganya adalah Allah yang melindungi kita”. Itulah kenangan di Gua Tsur, yang mencekam dan menegangkan. Hari-hari berikutnya, dirasakan agak lega, tidak begitu mengkhawatirkan.

Peristiwa itu diabadikan dalam al-Qur’an, sebagai berikut:
jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekkah) mengeluarkannya (dari Mekkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kami”. Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan menjadikan kalimat orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. al-Taubah 9:40).

Peristiwa ini telah memberi I’tibar kepada manusia, agar janganlah mereka mencampurkan kemurnian ibadah kepada Allah SWT., dengan perasaan atau tindakan yang berakibat musnahnya amal ibadah mereka sendiri.sebagaimana Nabi Muhammad berikhtar bersembunyi sementara di Gua Tsur itulah bagian dari ketaatan Nabi Kepada Allah SWT. Begitu juga kita sebagai manusia marilah sejenak kita diam di Rumah untuk sholat dan berdoa sementara di rumah sebagaimana kejadian sementara di Gua Tsur yang di alami oleh baginda Nabi Muhammad SAW.

(Uridu ilal ishlah mastatho’tu wama taufiqi illa billah, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib).
Bermacam-macam kegelisahan dan kesedihan yang terasa dalam hati manusia, semata-mata ada yang menghalangi dari melihat wujudnya Allah..”

Gelisah memang sifat manusia. Dimana-mana manusia itu suka gelisah dan menggelisahkan. Suka sedih dan menyedihkan. Sedang kegelisahan dan kesedihan yang dialami manusia di dunia dan akhirat, berkaitan dengan terhalangnya ia melihat Allah dengan basirah-nya di dunia dan terhijabnya ia dari Allah dikampung akhirat. Namun demikian kegelisahan dan ketakutan manusia tidak perlu menjadi penghalang baginya untuk berusaha melalui ibadah yang tekun, sehingga dengan ibadah itu ia mencapai tingkat ma’rifat yang sempurna mendapatkan cintanya Allah dan RosulNya Dengan tingkat ma’rifat sempurna ini, mata hatinya akan menjadi tenang, karena cahaya Allah memantul masuk ke dalam hati dan jiwa, maka timbul basyirah (penglihatan).

Dengan basyirah itulah manusia mampu menerima kehadiran Allah dalam hatinya, sehingga tumbuh ketenangan dan kegairahan, dan hilanglah kegelisahan dan kesedihan. Yakinlah Ramadhan 1441 H ini di tengah pandemi covid19 Allah akan melihat siapa diantara Hambanya yang bersungguh- sungguh menjalankan apa yang di perintahkan Allah SWT dan Rosulullah SWA.

Semoga kesungguhan kita dalam menjalankan ibadah bulan Ramadhan ini mendapat keridaan disisi Allah SWT.(*)

Exit mobile version